Aku berjingkit-jingkit menuju kamar. Kulihat ayah terbaring lemah di atas katil. Kuhampiri dia dan kucium tangannya. Lalu, aku mundur dan duduk di bangku di sudut kamar.
Ayah mengangkat wajahnya, memandangku dengan kuyu, dan tersenyum. Aku tahu, seperti selalu, ayah tidak akan mengucapkan apa pun.
Kupandangi ayah dan al-Quran tua di atas meja di sebelah bangku panjang. Sejadah usang berada atas lantai papan. Seuntai tasbih terkulai di atas sejadah itu. Dadaku perih. Sekian lama aku tidak melihat ayah. Sungguh kusesali sikapku padanya. Cinta A Ling adalah jasad halus di seberang lautan yang selalu tampak olehku, cinta ayah sebesar lapangan sepak bola, menari-nari di pelupuk mataku, sering kali tidak kulihat. Tiba-tiba aku dapat memahami berada dalam posisi ayah : menjadi seorang lelaki Muslim yang punya anak seorang lelaki Muslim.
Halaman : 112 - Padang Bulan
Aku selalu mengagumi baju Muslimah bibi. Sederhana, namun menimbulkan perasaan segan. Dengan menikahi paman, wanita itu adalah saudara bagiku. Sejak kecil aku dekat dengannya, namun selembar pun aku tidak pernah melihat rambutnya. Baju itu, jilbab itu, selalu menghembuskan semacam kelu ke dalam hatiku, betapa aku ini masih seorang islam yang berantakan.
Oleh sebab sudah dekat, sering kutanya kepada bibi bagaimana dia dahulu bertemu dengan paman, lalu mahu dinikahi. Bibi tidak pernah mahu bercerita . Dia selalu berkelit.
Halaman : 171 - Padang Bulan.
Padang Bulan - Andrea Hirata. Sudah berbulan aku membelinya, namun sukar sekali menghabiskannya dari kulit depan hinggalah kulit akhir. Bagiku, membacanya memerlukan jiwa yang benar-benar seni, juga fikiran yang benar-benar lapang. Tulisannya terlalu halus untuk dibaca sederas air terjun yang mengalir. Dan aku masih lagi merangkak-rangkak meniti bari-baris perkataan buku tersebut.
Ismiizzah.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment